Mengapa Tertawa? ~ Yang Jenaka dari M Quraish Shihab


            Tertawa adalah ciri manusia, karena itu ada yang mendefinisikan menusia dengan “binatang yang tertawa” sejalan dengan definisi “binatang yang berpikir” atau “binatang cerdas yang menyusui”. Tawa adalah manusiawi dalam arti yang tertawa hanya manusia. Tawa diundang kehadirannya oleh ulah, atau sikap manusia, atau hal-hal yang dihubungkan dengan manusia. Kita tidak tertawa melihat pemandangan apa pun selain manusia, kecuali jika pemandangan selain manusia dikaitkan dengan manusia. Kita juga tertawa jika melihat perilaku manusia yang tanpa makna, atau sesuatu yang dilakukan manusia berulang tanpa sadar bagaikan kerja alat otomatis. Kita tidak tertawa melihat seseorang memegang kepalanya sambil menyisir rambutnya, tetapi jika itu dilakukannya berulang-ulang dan tanpa sadar, maka ini menimbulkan tawa.
            Ada yang menduga bahwa tawa lahir dari rasa superioritas siapa yang tertawa terhadap objek tawa, baik karena objek berhasil dikalahkannya atau ditipunya, maupun karena objek tawanya melakukan sesuatu yang menunjukkan kebodohan atau kelemahannya.
            Ini dapat diterima kendati bukan sebab satu-satunya tertawa, karena ada saja yang tertawa setelah menyadari bahwa ia tertipu. Disini tawanya “tawa kecut”. Jika demikian, bisa jadi salah satu sebab utama tawa adalah “terjadinya sesuatu yang tidak terduga sebelumnya”. Di sisi lain, “tawa kecut” itu menunjukkan bahwa tawa tidak selalu berbarengan dengan lahirnya rasa gembira, walau rasa gembira dapat mengundang lahirnya tawa.
            Banyak kosa kata yang digunakan menunjuk tawa, masing-masing dapat menunjuk sifat/karakter yang tertawa. Tawa mengejek yang menyakitkan objek tawa dan membuka aibnya adalah tawa seorang yang tidak bermoral. Tawa yang mengandung olok-olok mengundang kesan bahwa pelakunya angkuh dan meremehkan objeknya, tidak memedulikannya. Adapun tawa yang lahir dari gurauan di mana subjek dan objek sama-sama tertawa, maka tawa ini dinilai tawa “orang baik” yang berusaha menyenangkan dirinya dan menyenangkan yang ditertawainya melalui pengungkapan kekurangan objek tanpa memberi kesan tentang keburukan yang bersangkutan, tetapi sekadar sebagai akibat kelengahan atau keterpaksaannya.
            Dalam tawa ada logika yang dapat mengantar kita menemukan kekurangan. Ada juga seni yang menimbulkan rasa kagum atau takjub, sebagaimana ada pengetahuan yang dicerminkan oleh tawa yang mengandung kritik. Ada juga kasih sayang atau kecaman, atau keangkuhan, tetapi tentu saja mestinya ada akhlaq. Pesan terakhir ditekankan oleh agamawan dan budiman.
            Salah satu tuntunan umum ajaran Islam adalah hendaknya setiap orang tampil dengan wajah ceria ketika menghadapi orang lain. Menunjukkan wajah masam dan kusut tidak dianjurkan dalam Islam. Namun, itu tidak berarti larut dalam keceriaan dan melupakan sisi lain dari kehidupan, yakni kesedihan, tetapi hendaknya diketahui bahwa kesedihan batin ini pada gilirannya dapat mengundang kegembiraan hakiki. Contoh nyata dari kondisi seperti ini dapat kita temukan dalam sejarah kehidupan para sufi dan orang yang dekat kepada Allah. Ada ungkapan yang menyatakan: “Apabila kematian merupakan keniscayaan, mengapa harus sedemikian gembira. Bukankah dengan kematian akan lahir pertanggungjawaban? Apabila setan merupakan musuh utama dan abadi manusia, mengapa manusia lalai?” Karena itu, sangat wajar ada peringatan untuk berdoa dan beristighfar setelah tertawa terbahak-bahak melampaui batas. Demikian, sekelumit pandangan agama tentang tawa. Wa Allah A’lam.

2 Comments

  1. Riz Anonymous November 15, 2015
  2. Faiq Nukha November 15, 2015

Leave a Reply